Tampilkan postingan dengan label Kotak Antologi Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kotak Antologi Prosa. Tampilkan semua postingan

Aku Ingin Memukul Dada Ayahku Lebih Keras

Pagi ini ialah pagi yang paling asing bagi rumah kami. Dedaunan gugur dengan santun di halaman. Perasaan yang jatuh begitu lembut pada pipi Ibuku.  Seharusnya aku telah berangkat ke sekolah.

Namun Ayahku tak menjawab saat kupamiti. Tapi Ayahku tidak bisu. Tak ada usapan pada rambutku. Tapi Ayahku bukanlah batu. Berhari-hari kerjaannya hanya tidur, tidur dan tertidur,  tapi beliau bukan seorang pemalas.

Ayah tidak sedang berpuasa, tapi beberapa hari ini tak sesuap pun makanan Ia telan. Aku ingin lekas bertumbuh dan bertambah besar. Aku ingin kepalanku sebesar telapak Ayah. Tapi telapakku terlalu mungil. Telapakku terlalu kecil.  Aku membencinya pagi ini.

Entah selapang apa dada Ibuku. Setahun belakangan Ia menjadi buruh cuci untuk menghidupi kami. Sementara Ayahku tugasnya hanya tidur saja. Tapi aku yakin jika Ayahku bukan seorang pemalas. Ia bukan seorang pemalas.

Hari ini aku benar-benar membenci Ayahku. Ia telah membuat Ibuku meneteskan air matanya. Pagi ini aku benar-benar ingin memukul dengan keras dada Ayahku. Jika saja kepalanku sebesar kepalanmu, Ayah.

Aku akan memukul dadamu lebih keras, agar garis pada layar monitor sebesar televisi kita ini tak hanya segaris.

Sang Pelukis

Dia melukis wajahnya serupa seorang perempuan yang cantik.
Memoles bibirnya dengan warna merah senja, menuliskan puisi tentang duka di matanya. Lalu menghidupkan perempuan yang diciptakannya.

Ia menciptakan hari-harinya sendiri, membuat pagi dari sepasang mata kesunyian hingga siapapun jatuh hati. Bercerita tentang duka di kedalaman matanya, berharap beberapa pria mendengar. Lalu jatuh cinta.

Sampai suatu hari, ia temukan pria yang benar-benar mencintainya.
Bukan sebab elok wajahnya bagai senja, bukan karena keindahan yang coba ia ciptakan di dunia yang tak ada. Mencoba menjadi abadi seperti puisi-puisi, berperan sebagai metaforanya sendiri. Menghidupkan kata-kata yang basi, yang mati bisa hidup lagi. Yang pergi menjadi abadi.

Atau..
Mungkin baginya semua lelaki sama saja. Mengagumi perempuan hanya sebatas pandang mata tanpa pernah menelusuri sedalam apa kepedihannya. Hari-harinya mulai dipenuhi ketakutan, juga kecurigaan yang ia ciptakan sendiri.
Iya, ia mulai jatuh cinta pada seorang pria ini. Namun bukan sebagai dirinya sendiri. Ia berperan layaknya perempuan yang dia lukis di wajahnya.

Dia merancang sebuah rencana besar dalam pikirannya. Sampai tak sadar jika dia telah masuk ke dunia perempuan yang ia perankan. Begitu banyak buaian ketika menjadi dia, katanya.
Baginya, kini hari-harinya menjadi menyenangkan.
Punya segalanya, punya cinta, punya apa saja yang ia inginkan.
Padahal ia sedang menciptakan kehilangannya sendiri.

Ribuan rindu telah sampai padanya, ribuan hari ia lalui tanpa duka. Namun hanya kasat mata.
Dia membangun sebuah rumah dari puisi, hanya untuk ia tinggali seorang diri. Hanya untuk ditinggalkan cintanya sendiri.

Dia bekerja untuk kesenangannya sendiri, bekerja untuk hidup dan menghidupkan wajah dalam kesepiannya.

Dia berperan sekaligus menjadi sutradara dalam kehidupan ini. Menjadi seseorang yang sangat dikagumi begitu banyak pria.
Dia berbusana layaknya seorang putri dalam negeri puisi.
Mengerikan, sungguh mengerikan..

Dialah bulan juga matahari bagi hari-hari pria yang mencintainya. Dialah pagi dan juga malam di dunia yang diciptakannya.
Berjuta mata memandanginya penuh kekaguman.
Padahal di kepalanya menyimpan ketakutan pada kebohongannya sendiri.

Percayalah, jika suatu hari nanti, Tuhan telah menciptakan pertemuan kita. Tapi bukan menjadi kamu yang seperti dalam lukisan ini.

Iya, aku mencintai perempuan ini..
Perempuan yang sesungguhnya sedang saya ciptakan dengan imajinasiku sendiri.

Berbagi Kamar Mandi

Engkau, perempuan dari balik selimut yang menuju kamar mandi
Ketika subuh membasuh tubuh
Engkau bersuci dengan puisi
Puisi yang tertulis dari airmata sepi

Tapi, kehilangan telah menjadi dinding di kamar mandimu
Kepergian telah menjadi sikat gigimu
Membangunkan kesendirianmu lebih pagi
Membangunkan kesadaranmu lebih dini

Sering kali kita menjadi seseorang yang pemalas
Namun kehilangan tidak memiliki hari libur
Dan tiada alasan untuk tidak mandi
Cukuplah menggosok gigi, katamu.

Atau jika esok tidak lagi diciptakan pagi
Dan dunia telah membangun sebuah rumah untukmu
Rumah yang tanpa kamar mandi
Kau boleh menumpang ke kamar mandiku
Untuk sekadar bersuci diri dan saling mengenali

Lalu..
Aku ialah lulur mandimu
Mengharum-lembutkan kulitmu
Aku serupa handukmu
Menutup-hangatkan tubuhmu
Aku serupa sikat gigimu
Menyegar-tegarkan nafas juga kata-kata di ujung lidahmu

Namun, suatu hari nanti..
Akan datang lagi pagi..
Pagi tanpa mandi..
Tubuh-tubuh yang sudah suci..
Masing-masing rumah kita yang tanpa memiliki kamar mandi..
Rumah yang hanya terbuat dari segunduk tanah..
Tetaplah berbagi abadi, di surga puisi nanti..

Tentang Dia



Bacalah ketika engkau sedang bercermin!!
Dan kau akan tahu, siapa perempuan yang aku maksud.

Secangkir Teh Kehilangan Tawa

Pukul tujuh pagi, Hari pertama.
Aku menyeduh secangkir tehku sambil berbincang di hadapmu.
Kusentuh lembut jemarimu yang begitu dingin,
namun tak lebih dingin dari embun pagi yang membasahi rerumputan.
Sinar matahari masih segaris, menelusup ke pori-pori halus kulitmu.
Dalam diammu aku bercerita,
Tentang sebuah tongkat yang merindukan mata buta Tuannya.
Di kepalaku; seorang musafir di padang pasir, mengusirku, 
katanya, "telapak kakimu akan melepuh Tuan! pergilah!"
*

Kereta Terakhir Dalam perjalananku

Selamat malam,
Siapa saja yang telah mendengar.
Apa saja yang telah kaubaca.
Dan entah, apa saja yang telah kaurasa.

Semoga kita masih berada dalam rentang waktu dan batasan dunia yang sama.
Mungkin bagimu, hidup telalu rumit,
atau bahkan segala yg dijatuhkan dari langit sebenarnya jauh lebih rumit dari kehidupan.
Seperti halnya kehidupan yang ada di sini, sama seperti di dalam dadaku ini.

Betapa ingin malam ini, ingatanku adalah sebuah lembah yang begitu basah.
Sedang engkau ialah, batu yang begitu tabah.
Mengakarkan lumut, menumbuhkan kehidupan yang kurasa patut,
untuk aku perjuangkan.

sesederhana hujan, seluarbiasa pelanginya

Pagi; menyapa dan menyentuh kenanganku seperti yg sudah-sudah pagi ini kamu masih terasa istimewah dipikiranku meski mungkin perhatianku tak akan bisa seperti dulu tapi aku tak mau mengulang rasa sakitmu karenaku, aku takut kamu menyesal ketika bersamaku lagi.
Aku ingin melihatmu sekali lagi untuk tak menyesali "KITA"
Cintai aku tapi jangan pernah lebih dari rasa cintamu untuk dirimu sendiri!